Jumat, 10 Juli 2015

Pembawa Kebahagiaan

Bismillahirrahmanirrahim.

Sore ini kakak berencana untuk buka puasa bersama di tempat kerjanya yang lama. Setelah sekitar 3 tahun menghabiskan waktunya bekerja di sana kini ia di terima sebagai PNS di salah satu Balai besar laboratorium di makassar. Ia ingin berkunjung dan bersilaturrahim disana. Tak lupa ia menyempatkan diri membeli buka puasa. Sungguh mulia niat kakakku ini. Beliau mentraktir teman-teman lamanya yang masih bekerja disana. Masya Allah…

Awalnya beliau tak mengajakku. Ini karena saya selesai bekerja jam 5.45 sore. Ia takkan sempat jika menungguku. Ia pun menyerahkan selembar uang biru. Saya heran juga buat apa.
”Itu untuk buka puasa di bawah” ucapnya pasaku ketika memberikan uang itu. Kami sedang bercakap di dalam kamar di lantai 2.
“Oh.. oke. Memang mau kemana?” tanyaku.
”Mau ke Toddopuli” ucapnya. Oh… ucapku dalam hati.

Saya pun beranjak dari tempatku berdiri lalu menuju ke tangga yang berada 5 langkah dari depan kamar. Satu persatu kulangkahkan kaki ini menuju lantai 1. Saya meletakkan uang di meja. Lalu duduk di kursi di dekat meja itu. Sambil menunggu teacher selesai mengajar, saya hanya duduk di depan laptop. Entah apa yang kulakukan. Ah.. saya mengetik sebuah kisah pagi ini. Ceritanya ada di tulisan sebelumnya.

Pukul 4.45, kelas pun selesai. Anty, teman kerjakupun berpamitan pulang. Sudah tak ada kelas lagi. So, kita bisa pulang lebih cepat hari ini. Akhirnya, saya pun ikut dengan kakak ke tempat kerjanya itu. Saya sudah mengenal tempat itu. Beberapa orang disana pun juga mengenal saya. So, tak perlu takut, malu ataupun akward. Let’s go aja deh. Daripada di tinggal sendiri, no way.

Kakak pun ada disampingku dan bersiap pergi.
”Saya ikut” ucapku.
”Ayoomii segera..” ucapnya.

Dengan segera ku sleep laptopku. Ku keluarka buku, dompet, dan Al-Qur’an untuk dibawa. Selebihnya kebawa ke kamar. Kakiku pun berlari menuju ke lantai 2. Cepat-cepat diri ini menyimpan barang-barang, ganti kostum, dan kembali ke lantai 1. OKe, siiipp siap berangkat. Pas mau berangkat, eh, saya belum ambil helm. hehehe.. Akhirnya saya harus berlari lagi ke lantai 2 dan mengambil helm. Lalu berlari lagi ke bawah. Kakak sudah menunggu di motor. Semua sudah beres, kue buka puasa juga sudah di tangan and LET’s go deh kita.

Sampai di tempat kerja kakak, kami sudah di sambut dengan senyum di parkiran. Pak Nam, tukang bersih-bersih tengah duduk di salah sau motor di parkiran. Ia semringah saat melihat kami memarkir motor. Lama diri ini tak kesini. Tak banyak perubahan. Kami pun berjalan memasuki ruko dimana teman-teman kakak berkumpul di bagian FO.

Kala melihat kak linda, semua temannya berteriak.
”Tawwa.. datangmi” ucap kak nina, teman baik kakak.
”Kak linda… lamata nda ketemu” ucap salah seorang diantara 5 orang disana.
”Tawwa yang PNS..” ucap salah seorang lagi.
Kakak hanya tersenyum. Saya pun duduk di kursi masuk sebelah kiri dari pintu masuk. Kursi besi layaknya kursi tunggu bandara yang memiliki sandaran. Kakak meletakkan kue yang kami bawa dan duduk di kursi kosong di depan meja FO. Kak nina pun memeriksa kue yang kami bawa.

“Wah.. enaknyaaa linda…” ucapnya. Seperti baru melihat kue-kue sejenis itu. Ingin diri ini berteriak kalau itulah kue yang kami santap setiap hari kala buka puasa di BTP. Tapi entah mengapa lidah ini keluh, hati ini melarang. Tak perlu, takut menyakiti, takut melunturkan raut bahagia di wajahnya. NIat itu pun terpendam dalam hati saja.

Hampir tiba buka puasa, anak-anak yang sedang belajar kini istirahat. Teacher-teacher pun berkumpul di FO. Mereka sangat senang akan kedangatang kakak. Apalagi ketika waktu berbuka, mereka sangat senang menyantap kue yang kami bawa. Saya benar-benar melihat raut wajah bahagia yang menyantap makanan anugrah alias Gratisan.. Mereka sungguh sangat senang. Saya sangat terkejut. Kakak seperti membawa kebahagian hari ini. So proud of you!!! Disini saya benar-benar menyadari, inilah indahnya berbagi. Melihat senyuman mereka ketika menyantap makanan ini, sungguh rasa bahagia dan ketenangan.

Saya baru tersadar betapa berharganya kakakku. Betapa ia disayangi di tempat ini. Jadi teringat dengan salah satu artikel yang saya baca kemari, orang yang beruntung adalah orang yang bila ada disenangi, bila tidak ada dirindui. Hari ini saya melihat bukti nyata di depan mataku langsung. Subhanallah.. Masya Allah… Kakak.. sungguh mereka menyukai keberadaanmu hari ini.

Aku pun bertanya dalam hati, Akankah diriku juga seperti ini? akankah teman-teman di kantor merindukanku bila suatu saat saya harus berpindah tempat? Akankah mereka bahagia jika suatu saat aku berkunjung ke tempat kerja ini lagi? Ya.. Allah… saya sangat berharap orang-orang bahagia atas kehadiranku. Ya.. Allah.. sungguh saya ingin tersenyum setiap hari pada semua orang. Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain, bagi umat ini. Ya.. Allah.. sungguh diri ini sangat ingin bekerja tak hanya untuk diri ini tapi juga untuk orang lain, untuk membuat orang lain bahagia. Itulah kebahagiaanku menebar cinta karena-Mu. Aamiin.

Alhamdulillahirabbil`alamin Senyum

Makassar, 9 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)