Jumat, 07 Desember 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim

Di jaman Now, siapa sih yang tidak mengenal aplikasi pemutar video yang satu ini, YouTube. Bisa dibilang aplikasi ini adalah gudang informasi yang ditayangkan dalam bentuk video. Rasanya setiap kali butuh informasi yang membutuhkan praktek langsung, YouTube ini akan menjadi tempat pencarian pertama. Misalnya ingin mencari cara membuat kue, cara menggunakan make up tuk pemula, memperbaiki printer, dan lain sebagianya. Cara ngehack website orang juga ada di sana. Oopsss Jangan ditiru yang terakhir ini. 

Bagi kalian para pemula yang menyukai kecantikan, beauty-beauty-an, skin care, dan make up, lima YouTuer berikut sangat saya rekomendasikan untuk kalian kunjungi. Apalagi jika kalian mau natural look, cuzz deh cari channel mereka.

PONY Syndrome

PONY ini adalah orang korea yang memiliki brand make up sendiri. Namun, dalam tutorial make up yang dia sediakan banyak juga menggunakan brand-brand lain. Hal yang paling saya suka adalah tips dan triknya dalam pengamplikasian make up karena sangat mudah dan hasilnya memuaskan serta tetap terlihat natural. Inilah mengapa saya lebih suka melihat make up tutorial korea, karena mereka selalu mempertahankan prinsip “make up cantik tak harus tebal apalagi menor”. Jika kita bertemu dan melihat saya menggunakan make up, maka itulah hasil dari belajar di sini.

Oh iya, soal bahasa memang menggunakan bahasa Korea. Tapi jangan khawatir, ada subtitelnya versi bahasa inggris. Lumayan juga meningkatkan kosa kata bahasa Inggris di dunia per-make-up-an.

Michelle Phan

Di channel yang satu ini, kalian akan lebih banyak membahas tentang skin care dari bahan-bahan alami dan make up tutorial juga. Biasanya saya lebih suka melihat skin carenya lalu mempraktikkannya di rumah. Hal yang paling sering saya gunakan adalah rice water atau air beras sebagai toner. Namun, untuk orang-orang dengan kulit wajah kering tidak boleh menggunakannya terlalu sering.

Sayangnya, saat ini Michelle Phan sudah tak lagi aktif di YouTube Channelnya. Meski begitu kalian tetap bisa melihat video-video skin care dan make up yang sudah di upload sebelumnya dan tonton oleh ratusan ribu orang. Untuk bahasanya tersedia dalam bahasa Inggris. Lumayan untuk melatih listening.

Alifah Ratu Saelynda

YouTuber yang satu ini berasal dari Indonesia. Saya suka sekali melihat cara Alifah Ratu mengaplikasikan make up di wajahnya. Di sinilah saya benar-benar melihat bagaimana make up mempengaruhi tampilan wajah seseorang. Jika wajah kalian berjerawat dan mau tampil mulus ke pesta, segera sarankan segera buka tutorial versi kak Ratu ini.

Molita Lin

Mendengar tutorial dari kak Molita Lin ini sangat menyenangkan. Dengan cara bicaranya yang khas, membuat diri ini betah nonton video tutorialnya sampai habis. Tidak hanya itu, tips dan make up tutorial yang dai tawarkan juga tidak terlalu menor dan berdasarkan kebutuhan. Namun, setiap tipsnya biasanya lebih disesuaikan dengan kulit beliau. Kalian tentu tahu bahwa tidak semua orang memiliki jenis kulit yang sama. Oleh karena itu, jika kalian memilih mengikuti sebuah tutorial atau skin care tentukanlah berdasarkan jenis kulit kalian.

Suhay Salim

Untuk YouTuber Indonesia keturunan Arab ini memiliki khas tersendiri dalam menyajikan videonya. Kalian bisa jadi tidak bosan menonton videonya hingga akhir karena ucapannya yang cepat dan kocak yang bikin ketawa. Kadang kala saya tertawa terbahak-bahak. Meski begitu, kakak yang satu ini adalah racun skin care dan make up yang memiliki kemampuan meracuni fikiran untuk membeli suatu barang berdasarkan reviewnya.

Mengapa? Karena ia akan memberikan review yang jujur tidak peduli itu endorse atau bukan. Jika ia suka maka di bilang suka, jika tidak suka maka akan dibilang tidak suka plus efek yang ditimbulkan setelah pemakaian akan dia sampaikan di video-videonya. Jadi jika produknya bagus maka itu berarti bagus, paling tidak itulah yang saya percayai dan semoga demikian adanya.

Tulisan ini diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day18

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

6 Desember 2018, 10:02PM!

Kamis, 06 Desember 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim

Setiap orang pasti punya rencana-rencana masa depan. Nah, sebentar lagi kita akan berganti tahun. Apa saja yang akan kalian lakukan di tahun mendatang? Siapa tahu saja kita memiliki rencana yang sama dan bisa melakukannya bersama-sama. Ada pepatah mengatakan “Mengerjakan sesuatu bersama lebih menyenangkan dan dapat menyemangati satu sama lain”.

Back to #Serba5! Kali ini akan membahas tentang lima hal yang harus diselesaikan di tahun 2019. Insya Allah!

Goes to Bali

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini sudah basi. Sekarang tuh kesannya sudah waktunya beranjak lebih jauh. Jauh dari kampung halaman dan melihat hal-hal baru di luar bumi ibu pertiwi alias ke luar negeri. Namun apa daya, saya belum menjajaki setengah tanah kampung halaman. So, kenapa tidak kita mencoba dulu menjajaki daerah yang paling terkenal bahkan di luar negeri sana.

Pernah beberapa tahun silam, teman saya berkunjung ke sebuah negara. Ia lalu bertemu dengan seorang teman asli sana. Mereka bercakap-cakap tentang Indonesia. Betapa kagetnya ia mengetahui bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia. Selama ini, mereka mengenal Bali namun tidak mengenal negara yang bernama Indonesia. Duh, sedih tuh dengarnya.

Melanjutkan Project TuSiwork

Tahun ini, saya dan beberapa teman berhasil menyelesaikan sebuah proyek sosial dan mendirikan komunitas Tunanetra Sighted Network. Oleh karena itu, di tahun mendatang, rencananya kami akan melanjutkan proyek sebelumnya dan juga akan melakukan beberapa inovasi proyek lainnya. Kami juga berharap bisa berkolaborasi dengan beberapa komunitas untuk proyek selanjutnya.

Apply Scholarship
Bagi kalian yang mengenal saya, tentu sudah tahu aktifitas tahunan yang satu ini. Bisa dibilang saya ini adalah salah satu dari sekian banyak Scholarship Hunter di dunia. Belum menemukan rejeki beasiswa di tahun-tahun sebelumnya, bukan berarti harus menghentikan langkah saya di tahun-tahun mendatang.
Salah satu motto saya adalah “Hidup itu harus tetap semangat untuk membuat hidup kita menjadi hidup”

Selesaikan 12 Buku

Aktifitas yang satu ini selalu menjadi agenda tahunan yang tak pernah tercapai. Hikssss.. Oleh karena itu, semoga tahun berikutnya bisa dimudahkan dan benar-benar bisa tecapai. Mengapa sebelumnya tidak tercapai? Banyak hal yang menjadi kendala. Salah satunya adalah pekerjaan. Hal lainnya adalah banyaknya pengalih perhatian seperti tidur dan main game. hehehehe

Finished Jane Austen Books

Ini adalah satu-satunya rencana yang baru akan saya canangkan. Baru kali ini saya menemukan buku yang bisa digunakan untuk belajar sekaligus meningkatkan bahasa inggris. Ini juga ada hubungannya dengan apply scholarship. Jika ingin mendaftar beasiswa khususnya ke luar negeri, penting sekali memperhatikan penguasaan bahasa inggris. Apalagi di setiap pendaftaran rata-rata mensyaratkan sertifikat kemampuan berbahasa inggris dari pelaksana resmi. You know, it’s not piece of pie. Bagi saya, itu tak semudah yang dibayangkan.

Itulah seri #serba5 kali ini. Doakan diri ini agar dapat menyelesaikan paling tidak lima rencana dari sekian ratus rencana seperti yang tersebutkan di sini. Kalian juga jangan sampai ketinggalan ya membuat rencana masa depan. Saat ini adalah waktu yang paling baik untuk segera mengambil kertas dan tuliskan rencana-renacanmu agar hidup lebih terarah. Chayo!^^

Tulisan ini diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day17

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

6 Desember 2018, 8:43PM!

Rabu, 05 Desember 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim

Ini adalah tulisan ala-ala mimpi 1 juta dollar-nya Merry Riana. Tapi ini versi yang 100 Juta rupiah saja. hahahaha... Kira-kira, apa yang akan kalian lakukan jika diberikan uang 100 Juta Rupaih? Atau Pernahkah Anda memimpikan mendapatkan Uang sebanyak itu? Atau tidak pernah sama sekali? Seperti saya. Hehehe

Bisa dibilang, saya paling jarang bermimpi mendapatkan uang. Lebih sering bermimpi untuk jalan-jalan keliling dunia mengunjungi negara-negara impian. Namun, jika ditanya seperti ini, maka mungkin hal inilah yang akan saya lakukan. Mungkin dan semoga bisa terwujud!

Naik Haji atau Umroh bersama

Dari dulu saya sangat ingin punya kemampuan untuk membayarkan Ayah saya untuk menunaikan ibadah Haji. Jadi, uang ini akan langsung dipakai untuk mendaftarkan beliau naik Haji. Jika tidak memungkinkan, maka akan diganti dengan umroh bersama Ayah dan kakak-kakak tercinta. Kayaknya Umroh aja sudah menghabiskan uangnya ya ^^

Bersedekah Ke Anak Yatim

Sebagian besar dari uang ini adalah hak anak yatim dan fakir miskin, maka mari kita bagikan hak mereka sebelum menggunakannya. Semoga dilapangkan dadanya untuk melakukan hal ini di dunia nyata.

Beli Koleksi Buku Hadis dan Terjemahan Al-Qur’an

Jika belum sempat membaca, paling tidak kita sudah memiliki koleksinya. Jadi, jika ingin membaca atau harus mencari suatu referensi tinggal membuka buku-buku tersebut. Semoga diberi petunjuk, hidayah, dan kemudahan untuk mempelajarinya dan mengamalkannya. Semoga juga dimudahkan dalam mengajarkan kepada keluarga dan keturunan di masa depan.

Membeli Barang-barang yang dibutuhkan

Ada baiknya digunakan untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dunia dan semoga juga untuk akhirat. Karena sejatinya hidup kita di dunia hanya sementara. Oleh karena itu, kita juga harus memikirkan apakah hal-hal yang kita beli itu berguna juga untuk kehidupan akhirat kelak. Misalnya, membeli gadget lalu dimanfaatkan juga untuk mendengarkan Al-Qur’an. Jika bisa, kenapa tidak? Dari pada canggih tapi tidak bernilai akhirat. Lebih baik canggih plus bisa mengantarkan ke jalan syurga. Sepakat?

Mungkin seperti itulah hal-hal yang ingin saya lakukan. Semoga jika uang itu benar-benar ditangan bisa melakukan yang pertama dan kedua dengan penuh lapang dada. Aamiinn. Doakan teman-teman. Mari kita saling mendoakan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Aamiin

Tulisan ini diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day16

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

5 Desember 2018, 12:18PM!

,
Bismillahirrahmanirrahim

Siang itu pesawat beberapa menit  lagi akan lepas landas. Saya sedikit was-was. Diri ini sudah duduk rapih di kursi pesawat. Sementara, kami masih menunggu dua orang teman. Duh, di manakah mereka?  ucap diri ini dalam hati.

Saya memiringkan sedikit kepala kea rah pintu. Dua orang terlihat terengah-engah memasuki pesawat dan menuju kea rah di mana diri ini duduk. Itulah dua teman yang kami tunggu. Temanku yang akan berangkat bersama ke Jakarta menggunakan pesawat terbang. Inilah kali pertama saya bepergian dengan kendaraan ini.

Excited, takut, dan tegang bercampur menjadi satu. Diri ini pun memperhatikan gerakan pramugari yang memperagakan hal-hal penting yang harus diketahui sebelum penerbangan dilakukan. Lalu, mencoba memasang seat belt dan akhirnya dibantu oleh teman duduk. Sungguh memalukan, tapi maklumlah ini adalah pengalaman pertama.

Sesampainya di Bandara, Langsung saja kami menuju pengambilan barang. Meski hanya empat hari, namun koper kecil menjadi pilihan untuk menyimpan barang bawaan. Kali ini kami akan menuju ke suatu tempat di Jakarta.

Sepanjang perjalanan dari Bandara menuju ke Taman Mini Indonesia, saya hanya melihat berbagai pohon dan tanda-tanda jalan. Kadang kala atap rumah atau gedung-gedung. Selain itu, otak ini tak mampu lagi melihatnya. Ini sudah lama sekali, kira-kira Sembilan tahun yang lalu.

Taman Mini merupakan tempat berkumpulnya rumah-rumah adat se-Indonesia. Itulah pengetahuan yang saya miliki kala itu. Meski tak sempat meng-ekplore tempat ini secara keseluruhan karena ada kegiatan  seminar yang kami ikuti di sana. Namun, paling tidak dapat meihat-lihat beberapa rumah adat yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

Kali kedua ke Kota ini, masih dengan  sebuah kegiatan. Diri ini terpilih sebagai salah satu pemuda untuk mewakili Sulawesi Selatan dalam mengikuti kegiatan Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kegiatan inilah, kami diperkenalkan berbagai wisata sejarah yang ada di Ibu Kota.

Inilah saat di mana saya melihat sisi lain dari Kota Jakarta. Betapa banyak tempat bersejarah di sini. Mulai dari Museum Bank Indonesia, Museum Fatahillah, Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional, dan Kota Tua. Ingin sekali waktu itu melihat Monumen Nasional (MONAS) namun tak sempat lagi karena diburu oleh waktu untuk menyelesaikan kegiatan kami.

Lalu, saya diminta lagi untuk menghadiri training selama tiga hari di Jakarta. Karena merasa sudah pernah ke Kota ini sebelumnya, saya memutuskan untuk pergi walau sendiri. Banyak yang berpendapat bahwa itu agak sediit berbahaya. Namun, tak apalah, tak ada salahnya menambah pengalaman.

Pada kesempatan ini,  saya pun melakukan segalanya sendiri dengan bermodalkan alamat yang dituju , kendaraan yang dapat digunakan, serta nomor HP yang dapat dihubungi. Tak ragu, saya menaiki mobil Damri yang akan mengantar ke terminal akhir. Waktu itu saya mulai sedikit was-was, karena bus damri yang saya tumpangi sampai pukul 9 malam.

Saya pun turun dari damri. Seseorang supir taxi menghampiri yang dapat dikenali dari baju seragam yang dikenakannya.
“Mau kemana neng?” ucap lelaki supir itu.
“ Saya mau ke sini” saya menyebutkan sebuah alamat waktu itu.
“Wah kalau ke sini, 150 ribu neng” lanjutnya.
“Wah maham sekali pak, 50 ribu aja” ucapa saya.
“Tidak bisa neng. Kalau tidak mau ya sudah” ia pun tak acuh lalu duduk di sebuah batu yang terletak di pinggir jalan terminal.

Orang kedua lalu menghampiri dan proses tawar menawar pun terjadi. Kami akhirnya bersepakat untuk membayar 35 ribu rupiah fix namun harus menunggu hingga jam 10 malam. Katanya sih untuk menghindari macet karena katanya saat ini jalannan masih padatnya. Waktu pukul 10.30 malam, kami pun berangkat. Ia tetap menyalakan argonya. Dalam perjalanan kami, ia pun mulai membuka percakapan dan melontarkan pertanyaan kepada saya.

“Mbak dari mana?” tanyanya.
“Saya dari Makassar, Pak” jawab diri ini singkat.
“Wah! Orang Makassar katanya galak-galak ya mbak, apalagi yang ceweknya” ujarnya. Dalam hati “oh ya?”
“Saudara saya istrinya orang Makassar katanya galak mba” lanjut si bapak sopir. Hahahhaa.. saya hanya bisa tersenyum sama si bapak padahal dalam hati tertawa.

Tak banyak kata yang keluar dari mulut ini. Jemari ini sibuk memaikan jari di atas keyboard HP untuk menanyakan jalan dan alamat pasti rumah teman saya. Meski sempat nyasar dan si bapak mulai ngoceh. Akhirnya alamatnya ketemu juga. Argo menunjukkan angka Rp. 32.000, -. Untunglah tadi saya hanya menawarkan 35 ribu rupiah. Jadi tidak rugi-rugi amatlah.

Di lain waktu, harus kembali lagi ke Ibu Kota. Kali ini dapat beasiswa belajar bahasa inggris gratis selama satu bulan. Bersama beberapa teman lainnya, kami ditempatkan dalam satu rumah kos-kosan yang dekat dengan tempat les. Berjalan setiap pagi dan menjalani aktifitas kelas dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Karena ini adalah kewajiban, kami tak boleh protes tentang jadwal belajar karena sudah menyanggupi sebelumnya.

Di sini lah saya mulai merasakan kehidupan layaknya orang Jakarta. Tepatnya di Jakarta Selatan. Yang terlihat hanyalah gedung-gedung tinggi. Terik matahari dan udara panas bahkan di waktu subuh.

Karena uang saku belum keluar, kami makan dengan hematnya. Setiap pagi, bersama teman kamar, saya makan di salah satu warteg terdekat. Kadang kala kami membungkusnya ke tempat les. Karena cukup melelahkan bila harus naik turun dan berjalan kaki keluar untuk mencari makanan murah di sekitar gedung perkantoran. Apalah daya, saya dan teman saya hanyalah seorang penganguran yang beruntung mendapatkan beasiswa belajar TOEFL iBT selama sebulan.

Dengan segala pengalaman ini, tinggal di Jakarta memang penuh tantangan. Apalagi jika diri ini tak terbiasa dengan segala hiruk pikuk kota, polusi udara, dan kepadatan kendaraan setiap hari. Meski begitu, saya sangat bersyukur atas segala pengalaman ini. Masih ada pengalaman lainnya yang mengantarkan ini bisa melihat Monas dari dekat meski belum bisa masuk di dalamnya. Mungkin suatu saat bersama teman atau pasangan tercinta (^^)

Tulisan ini diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day15

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

4 Dessember 2018, 11:48PM!
,
Bismillahirrahmanirrahim


Beberapa tahun silam, teringat ketika pertama kali melakukan perjanan keluar kota dengan sebuah kapal laut. Bersama ke-12 teman yang lainnya, kami akan beranjak ke sebuah kompetisi nasional di salah satu kampus teknologi terkenal di Kota Bandung. Ini pula saat kali pertama diri ini menginjakkan kaki di pulau Jawa.

Kota pertama yang kami jajaki adalah Kota Surabaya, tempat kapal ini berlabuh. Sebenarnya tak sepenuhnya menjajaki. Diri ini hanya mengunjungi monument kapal selam yang tak jauh dari stasiun kereta api yang akan membawa kami menuju kota Bandung.

Rasanya tak menyangka, diri ini akan keluar kota. Sejak dulu hanya bisa melakukan sesuatu yang tak jauh dari rumah, karena keterbatasan kemampuan finansial. Namun, kali ini ada kesempatan tuk membuktikan diri melalui sebuah kompetisi.

Pandangan pertama yang melekat di kota ini adalah bangunan-bangunan tua yang atapnya masih memepertahankan arsitektur dari jaman penjajahan Belanda. Lalu, mata ini tertuju pada sebuah taman dekat kampus dan tempat kami menginap. Sebuah asrama dekat Mesjid Salman ITB. Baru kali ini berkunjung ke sebuah taman asri nan nyaman serta dingin meski terik matahari cukup bersinar.

Langkah kaki ini kemudian menuju Alun-alun kota. Rasanya di sempanjang perjalanan yang kulalui banyak outlet-outlet yang memajang baju-baju di took mereka. Waktu itu, teman saya menyebutnya Factoty Outlet. Katanya sih bajunya murah-murah dan bagus. Sempat memasuki salah satu outlet dan berakhir pulang dengan tangan kosong. Model baju dan budget belum mampu disesuaikan.

Sesampainya di alun-alun kota, berasa berada di dalam “surga” belanja. Dulu masih banyak para pedangang kaki lima yang menjual berbagai hal. Mereka berjejeran di sekitaran mesjid di alun-alun. Banyak barang yang dapat dibeli dengan harga murah, namun kualitas masih bisa dibilang bagus. Di sinilah jadinya membeli beberapa buah tangan untuk dibawa pulang ke kampong halaman.

Meski tak juara dalam lomba, namun perjumpaan kali ini cukup mengasyikkan. Di kompetisi yang berbeda kami kembali lagi ke kota Ini. Kali ini bersama dua teman yang lainnya terpilih menjadi Finalis dalam Electrical Engineering Award 2009. Kami masuk dalam 5 besar dan memperoleh kesempatan presentasi dihadapan para finalis, juri dan peserta dari berbagai kota. Meski hasilnya tak cukup memuaskan, namun rasa syukur sudah bisa kembali ke kota ini. Kali ini berkunjung ke pasar minggu pagi dan berkunjung ke kebun binatang untuk pertama kalinya.

Dipanggil untuk tinggal selama beberapa pekan di Bandung, saya pun kembali ke sana untuk mendapatkan coaching dalam rangka memperkuat fondasi ilmu untuk megembangkan organisasi yang baru ekspansi di Makassar. Di sinilah saya benar-benar merasakan betapa indahnya Kota Bandung ini. Bahkan saya merasakan telah tinggal lama di sini.

Orang-orang yang ramah dan suka menolong. Saya pun bisa pergi kemana-mana sendiri dengan kendaraan umum seakan tinggal di kota sendiri. Kadang kala menikmati pemandangan kota dengan berjalan kaki dari suatu  tempat ke tempat lain. Suasana nyaman tanpa rasa takut bepergian sendiri ke Mall, pasar, alun-laun, dan beberapa tempat lainnya.

Kalau dulu tinggal lebih lama lagi, mungkin saya akan menjajaki dan hafal jalan-jalan ke beberapa tempat wisata seperti lembang dan lain sebagainya. Sayangnya tak bisa tinggal lama. Sepulang dari sini, harus segera mengerjakan PR dari hasil coaching yang didapat.

Terima kasih untuk semua teman yang telah mengenalkan Kota ini. Kalian adalah bagian dari ingatan masa lalu yang indah. Terima kasih pula ingin menjadi teman dari seorang pemalu di masa lalu, meski sekarang masih pemalu. Bagaimana dengan kalian? Adakah memori spesial yang tertinggal di Kota ini? Yuk berbagi ingatan indah di masa lalu.

Tulisan ini tema pengganti yang diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day14

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

4 Desember 2018, 3:50PM!

Senin, 03 Desember 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim




Berbicara masalah koleksi, tentu memilki perspektif yang berbeda-beda. Apakah koleksi itu merupakan kumpulan barang-barang yang ditumpuk di rumah atau barang-barang yang kita kumpulkan dan dipelihara dengan baik? Pertama, mari kita lihat dulu pengertian kata koleksi.

Jadi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata koleksi berarti 1 kumpulan (gambar, benda bersejarah, lukisan, dan sebagainya) yang sering dikaitkan dengan minat atau hobi objek (yang lengkap); 2 kumpulan yang berhubungan dengan studi penelitian; 3 cara dan sebagainya mengumpulkan gambar, benda bersejarah, lukisan, objek penelitian, dan sebagainya. Sedangkan kata mengoleksi merupakan  mengumpulkan (menjadi satu); menjadikan barang-barang sebagai koleksi.

Jika merujuk dari arti yang sudah disebutkan, maka dalam tulisan kali ini akan membahas tentang koleksi dengan arti yang pertama yaiutu koleksi benda yang paling disukai. Nah, apa saja benda-benda yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut.

Stationery / Alat Tulis

Mungkin bagi sebagian orang memiliki stationary bukanlah sebuah koleksi namun sebuah kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jika memiliki beberapa saja misalnya dua – lima buah, tentu kepemilikan tersebut berdasarkan kebutuhan. Bagaimana jika punya belasan bahkan puluhan? Menurut saya, ada tiga kemungkinan. Bisa saja memang untuk kebutuhan kantor atau pekerjaan, penjual alat tulis-menulis, atau memang mengoleksi hal tersebut.  Seperti saya yang suka mengoleksi pulpen, gunting, paper clip, sticky note, stabillo, dan masih banyak yang lainnya. Saat ini lebih menyukai alat tulis-menulis yang unik-unik yang tak mudah ditemukan dipasaran.

Pita-Pita dan Pernak-Perniknya

Koleksi unik lainnya adalah pita. Saya sangat suka membeli barang yang satu ini. Awalnya, diri ini ingin membuat usaha handmade dengan berbahan pita. Karena manajemen waktu yang kurang  baik antara membuat pernak-pernik dari pita dan kerjaan kantor kala itu, akhirnya harus memutuskan fokus pada pekerjaan kantor terlebih dahulu. Jadinya, pita-pita ini masih menumpuk dan menjadi koleksi menyenangkan tersendiri bila melihat deretan warna-warna yang berbeda. Belakangan sedang mencari pita dengan motif-motif unik sehingga dapat menambah variasi-variasi baru untuk handmade nantinya plus menambah deretan pita unik.


Oleh-oleh dari Luar Negeri

Biasanya oleh-oleh ini akan saya simpan dengan rapih. Mulai dari gantungan kunci, pin-pin, pembatas buku, kartu pos, pulpen, miniature gedung atau landmark suatu negara, dan lain-lain. Untuk tempelan kulkas biasanya langsung ditempel saja di kulkas biar langsung digunakan.

Buku-Buku

Nah, ini adalah hal yang paling disukai. Koleksi buku! Biasanya jika ada buku diskon dan punya uang bakalan memborong buku-buku yang menarik di pandangan mata setelah membaca sinopsisnya. Kadang-kadang dimarahi sama saudara karena banyak buku-buku yang ditumpuk namun entah kapan akan dibaca. Hehehe… Namanya juga koleksi, iya kan? Mau dibaca kapan pun juga tak masalah, yang penting punya dulu bukunya. Hahahaha… Bukan contoh yang baik! Jika punya buku bacalah segera agar segera dan segera dapatkan manfaatnya.

Kartu Post (Post Card)

Belakangan lagi tertarik untuk mengoleksi lebih banyak lagi kartu pos. Saat ini sedang mendaftar postcrossing. Di mana kita bisa saling bertukar kartu post dari berbagai negara. Menerima juga berbagai macam kartu pos yang kosong yang belum digunakan atau ditulisi sesuatu, namun tetap mengoleksi kartu pos yang ditulisi pesan-pesan tertentu, apalagi yang memilki dampak positif.

Cukup sekian tulisan kali ini. Jika teman-teman mau memberikan hadiah atau memberi oleh-oleh ke saya, sangat direkomendasikan memilih salah satu item di atas. Feel free to contact me through my e-mail : evhy.kamaluddin@gmail.com. Kali aja ada yang mau mengirimkan hadiah, boleh meminta alamat saya melalau email. Diri ini akan menerimanya dengan senang hati selama yang dikirim adalah hal-hal positif dan baik ya (^^)

Tulisan ini diikutkan dalam #BPN30DayChallenge2018 #bloggerperempuan #Day11


Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,

3 Desember 2018, 12:16 AM!

Rabu, 28 November 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, tak sengaja melihat postingan instagram salah satu teman. Ia membahas tentang surat untuk ibu. Ia pun menuliskan beberapa penggal bait di caption-nya. Hampir saja butir-butir air dari kelopak mata jatuh ke pipi, namun diri ini mencoba membendungnya dengan sekuat tenaga.

Sejak 2007 lalu, Ibu menghembuskan nafas terakhirya di dunia. Ia tak lagi dapat saya peluk bahkan tak dapat lagi bersenda gurau dengannya. Meski selama ini saya sangat dekat dengan ayah bahkan rasanya tak ingin lepas darinya sedari kecil, namun kebersamaan ibu lebih intents.

Beranjak SMP, kami sering menghabiskan waktu bersama selepas pulang sekolah. Masih teringat jelas, sore hari di mana kami sering berkumpul bersama tetangga dan keluarga dekat lainnya yang se-kampung. Ibu selalu mewanti-wanti tentang pergaulan. Ketika kami berkumpul, tak jarang mereka membicarakan tentang cara bergaul seseorang atau sikap seseorang. Bisa dikatakan mereka “bergosip”.

Ibu adalah sosok yang cukup tegas. Utamanya dalam hal pengeluaran. Tak jarang keinginan untuk belanja tak dapat dipenuhi karena beliau sangat memperhitungkan keuangan kami. Perlu saya akui bahwa kami bukanlah orang dengan kekayaan berlimpah. Butuh kerja keras untuk menghidupi dirinya beserta keluarga.

Ayah adalah seorang petani, sedangkan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga yang bertugas mengurus anak-anaknya. Walaupun begitu, ibu tetap berusaha membantu ayah dengan menjual “cangkang” ketupat kepada penjual coto. Cangkang ini nantinya yang akan diisi oleh beras dan kemudian dimasak dan jadilah ketupat yang dapat dinikmati bersama coto maupun bakso di pasar.

Di awal bisnis sepertinya ibu cukup berhasil meraup uang dan mencukupi kebutuhan keluarga. Ayah juga masih kuat untuk mencari uang dengan bekerja di pabrik pembuat rokok secara tradisional. Waktu pun berlalu dan saya lahir.

Di usia 6 tahun, saya melihat bahwa ibu tak sehat. Beliau sering batuk-batuk dan kadang sakit. Seiring bertambah usia, batuknya semakin parah. Sudah banyak obat dokter yang diminumnya. Sepertinya sudah beberapa kali berganti obat dokter, namun batuknya malah bertambah parah saja.

Sejak SMP, ibu tak lagi dapat bekerja banyak. Kami anak-anaknya pun harus membantu beliau untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjalankan bisnisnya. Uang jajan kami pun kadang ditentukan dari banyaknya ketupat yang dapat kami buat.

Saat SMA, beliau tak lagi se-produktif dulu. Untuk ke pasar saja kadang kala beliau harus ditemani karena tak mampu membawa barang berat-berat. Tubuhnya lama kelamaan mengurus dan suaranya mulai parau. Malam hari kadang rasanya beliau tak bisa tidur dikarenakan batuk-batuk tiada henti.

Walaupun ibu mengalami pergulatan hidup semacam itu, namun di mata ini, beliau adalah sosok yang sangat kuat. Ia masih bisa bekerja dan masih dapat memberikan kasih saying kepada anak-anaknya. Meski memang kami jarang berbincang-bincang lama. Namun, setiap kata yang beliau ucapkan selalu untuk kebaikan kami semata.

Terima kasih ibu.
Maafkan anakmu  yang tak mampu menjagamu sepanjang waktu.
Maafkan anakmu yang tak mampu bersamamu sepanjang waktu
Rasa sesal tak jua mampu kuhapuskan
Karena diri yang tak bersamamu di detik-detik terakhirmu
Diri ini tak berada disampingmu, memelukmu
Kuingin memelukmu tapi tak bisa lagi
Ketika kulihat tubuh kaku itu
Terbungkus rapih dalam balutan kain putih
Pikiran ini kosong
Tak tahu harus bagaimana
Air mata yang tak mampu kuluapkan di depan umum
Kuterdiam! Tak bisa berkata-kata
Satu kata saja, satu pertanyaan saja
Orang-orang itu akan mengajukannya
Di saat itulah mata ini mengeluarkan cairan beningnya
Ibu, Terima kasih atas jasamu
Semoga engkau senantiasa dalam Lindungan-Nya di alam sana
Semoga Allah melapangkan kuburmu
Semoga kita mendapatkan syafaat Rasulullah swt.
Semoga kita dipersatukan di Jannah-Nya. Aamiin

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang,

28 November 2018, 10:34PM!






,
Bismillahirrahmanirrahim

….
Guruku Tersanyang
Guruku Tercinta
Tanpamu Apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku Terima kasihku
….

Tanggal 24 November 2018 lalu di SDN Katanka Makassar, diri ini berkesempatan untuk sharing dalam kegiatan Nulis Bareng Sobat. Kegiatan ini merupakan voluntary work dari Sobat LemINA. Lembaga ini merupakan NGO dibawah LemINA yang merupakan seingkatan dari Lembaga Ibu dan Anak. Sobat LemINA sendiri merupakan relawan anak.

Dalam kegiatan Nulis Bareng Sobat, kami dituntut untuk memberikan materi tentang literasi atau kepenulisan. Materinya dimulai dari pengenalan, penggunaan huruf besar, tanda baca, paragraf deskriptif, penulisan surat, pembuatan majalah dinding, imbuhan, hingga …

Kali ini, saya bertanggung jawab untuk membawakan materi tentang imbuhan. Awalnya cukup kekurangan ide. Kira-kira bagaimana caranya supaya anak-anak ini tetap fokus di jam-jam kritis. Beberapa waktu lalu ketika saya berkunjung di kesempatan lain, anak-anak ini cukup energik untuk berlari kesana – kemari. Kadang kala meneriakkan untuk segera pulang, karena memang kegiatan ini dilakukan setelah pulang sekolah pada pukul 11.30 WITA.

Malam sebelumnya, saya mendengar sebuah lagu berjudul “Guruku Tersayang”. Inspirasi pun datang untuk menarik perhatian di awal pelajaran dengan menyanyikan lagu tersebut disertai gerakannya. Kemudian dilanjutkan dengan me-review lagu tersebut dimanakah terdapat kata yang menggunakan imbuhan. Lalu dijelaskan tentang imbuhan beserta contoh yang lebih banyak dan kembali ditutup dengan menyanyikan lagu bersama-sama kembali. Itulah rencana awalnya.

Namun apa yang terjadi?

Saat tiba di sekolah, langsung saja kaki ini melangkah menuju ke kelas IV yang merupakan kelas pertama sebelah kanan ketika memasuki pintu gerbang. Meski datang terlambat, tak lama sih, kira-kira 2 menit, namun mereka masih menunggu di dalam kelas. Thanks for that.

Seperti yang sudah di planning-kan, saya segera menulis lirik lagu di papan tulis dan ternyata mereka sudah lumayan hafal. Beberapa orang sudah menyanyikan lagunya walaupun diri ini belum selesai menuliskan secara full. Selepas menulis, anak-anak diajak berdiri di tempat masing-masing. Namun apa daya, mereka ingin berbaris di depan kelas. Dengan sedikit arahan mereka langsung berbaris rapih.
Kini kami bernyanyi bersama dengan gerakan yang saya peragakan. Mereka terlihat cukup antusias meski sesekali salah gerakan. Karena grogi, diri ini sempat lupa beberapa gerakan. Untung saja mereka tak menyadari, karena mereka pun tak tahu gerakannya. Kali ini selamat! Hahaha.. Kami menyanyikanya dua kali sebelum mereka bubar dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

Saatnya memulai pelajaran! Saya menjelaskan tentang imbuhan secara umum. Apa itu imbuhan? Bla bla bla dan memberikan contoh dari kata dasar ke penambahan imbuhan hingga membuat sebuah kalimat. Mereka pun memperhatikan secara seksama bahkan sangat antusias.

Selang beberapa lama, kak Wina – salah satu relawan anak Sobat LemINA, datang untuk menemani. Meskipun awalnya aman terkendali, namun suara ini memang harus berada di level tinggi untuk dapat didengar. Selanjutnya saya pun memperkenalkan tentang awalan, sisipan, akhiran, dan awalan akhiran dari contoh-contoh yang tertulis dengan melingkari imbuhan yang ditambahkan pada kata dasar.

Saya memulai contoh dengan menyebutkan kata makan kemudian menjadi memakan, termakan, makanan.
“Apa contoh kalimat untuk memakan?” ucap saya sambil melihat kea rah murid-murid yang mengerutkan sedikit dahinya.
“Saya kak, adik memakan ayam.” Ucap salah seorang diantaranya sambil menaikkanka satu tangan. Yang lain pun juga ikut-ikutan seperti memakan nasi, adik memakan bakso, dan lain sebagainya.

Contoh lainnya adalah kata getar menjadi gemetaran. Seperti sebelumnya mereka pun membuat sebuah kalimat.
“Gempa bumi kak” ucap seseorang di bangku keempat bagian belakang baris ke-2.
“Bumi meledak” kata seorang anak perempuan yang sedari tadi diam-diam saja. AKhirnya mereka membuka suara. Mendengar jawaban mereka, ingin rasanya diri ini tertawa. Masih banyak ucapan lainya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Intinya ada sedikit kesalahan perspektif.

“Ayo coba lagi buat kalimat yang ada kata gemetaran” ucap saya kembali.
“oh, saya tahumi kak. Adik saya gemetaran karena dingin” teriak seorang murid dibagian depan.
“Ya, betul sekali” kata saya sambil menuliskan kalimat itu di papan tulis.
 Akhir penjelasan kami pun meneriakkan bersama kata-kata berikut.
“Jadi awalan itu berada dimana?” tanya diri ini pertama kali. “Awalan berada di depan” ucap mereka secara serempak dan kompak.
“Sisipan berada di?” lalu mereka menjawab “di tengah”. Kemudian diakhiri dengan “Akhiran di?” bersama mereka berteriak “di akhir”.

Huffftttt

Agak lelah ditemani keringat karena udara panas siang hari. Walau berjalan cukup baik, sesekali penjelasan terpotong beberapa detik karena kalimat berikut. “Kak, saya ijin ke toilet” atau “Kak, saya ijin ke WC”. Jika dihitung-hitung mungkin ada 7 orang yang melakukan hal yang sama secara bergantian.
Kali ini, kami memasuki sesi kata keren dari awalan, sisipan, dan akhiran. Tahukah kalian kata keren dari ketiga hal tersebut? Tidak tahu? Jangan khawatir saya akan membaginya dengan kalian. Jadi, kata keren dari awalan adalah prefiks, sisipan sama dengan infiks, sementara akhiran adalah sufffiks.

Namun tantangan kedua pun datang, saat menuliskan nama keren itu di papan tulis sambil menyebutkan namanya, anak-anak mulai mondar mandir dan terlihat tak memperhatikan apa yang saya katakana. Meskipun beberapa orang sedang mencatat apa yang ada di papan tulis, namun suara beberapa orang lainnya meredap suara rendah dari diri ini. Untung saja ada kak wina.

Beliau pun mengambil alih sementara untuk mengembalikan fokus anak-anak, sementara saya melanjutkan menulis di papan.
“Yang dengar kak Wina, pengang kepala” sambil memegang bagian tubuh yang disebutkan. Anak-anak tiba-tiba menuju ke tempat duduk dan terlihat tenang kembali di tempat duduknya satu demi satu.
“Yang dengar kak Wina, pengan hidung” ucapnya lagi. Mereka mulai mengikuti gerakan yang dimaksudkan. “Yang dengar kak Wina, pegang telinga” semua mulai antusias mengikuti hingga terakhir sedikit dikecohkan dengan “Yang dengar kak Wina, pegang hidung” semetara kak Wina memegang kepala. Anak-anak sedikit heran dan tertawa. Intinya seperti itulah.

Berkat beliau, keadaan kembali terkendali. Anak-anak kembali memperhatikan apa yang saya ucapkan sambil bersama-sama menyebutkan kata-kata keren dari apa yang tertulis di depan mereka. “AlhamdulillahThanks kak Wina, you are my hero today” ingin rasanya mengucapkan ini namun apa daya hanya bisa dalam hati. Semoga tersampaikan lewat tulisan ini.

Nah, setelah semua kelelahan ini. Waktunya bagi mereka untuk mencari sebuah kata dan memberikan imbuhan serta contoh kalimatnya. Mereka dapat mengambil dari buku ataupun dari sumber mana pun asalakan tidak sama dengan contoh yang ada di papan tulis. Mereka harus menulisnya dalam selembar kertas yang sudah disediakan. Di balik kertas tersebut terdapat materi yang baru saja diajarkan agar dapat dibawa pulang dan dipelajari kembali di rumah.

Kegiatan ini sangat membuat mereka bersemangat. Murid-murid mulai berebutan untuk meminta kertas, lalu menuliskan contoh mereka. Bagi yang benar akan mendapatkan nilai 100 plus tandatangan saya. Hahahahaha, bercanda (^^) tapi ada lho yang minta tandatangan beberapa orang. Berasa jadi artis sesaat setiap kali ada yang meminta tandatangan di luar pekerjaan.(^^) Apalagi anak-anak mengantri dan berteriak “saya, saya” untuk meminta nilai. Jika belum tepat, maka dijelaskan kembali dan mereka harus mengulang hingga selesai.

Oh iya teman-teman, sedikit tips bagi kalian yang ingin membagikan kertas atau apapun itu dan kemudian harus menjelaskan sesuatu tentangnya. Ada baiknya kalian menjelaskan dulu isi kertas tersebut atau apa yang harus dilakukan dengan benda-benda tersebut sebelum membagikannya. Ini berguna, agar mereka sudah mengerti dengan apa yang harus dilakukan sebelum fokusnya berada pada kertas tersebut dan tak lagi memperhatikan apa yang kalian sampaikan.

In case, kalian langsung membagikan tanpa mejelaskan terlebih dahulu. Istilahnya sudah terlanjur basah, kalian bisa menggunakan tips selanjutnya. Kalian dapat member arahan untuk mengangkat kertas di atas kepala, jika itu kertas. Hal ini dilakukan untuk membuat fokus mereka kembali kepada kita dan mengecek apakah semua sudah mendapatkan kertas yang bersangkutan. Sebelum menurunkan kertas dan melanjutkan pekerjaan, tanya kembali apa yang harus mereka kerjakan. Jika mereka dapat menjawab maka kita bisa berasumsi bahwa mereka sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.


Yeah! Cukup sekian cerita kali ini. Huffttt.. ternyata cukup panjang juga ya! Tak apalah, ini hanya sekedar sharing tentang aktifitas menghadapi anak SD di dalam kelas. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Karena tanggal 25 November adalah Hari guru nasional maka mari kita ucapkan Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih atas jasa-jasamu wahai Guruku Tersayang. Mari bernyanyi bersama untuk guru kita tercinta.

Lirik Lagu Guruku Tersayang
Cipt. Melly Goeslow

Pagiku Cerahku
Matahari bersinar
kugendong tas merahku 
di pundak

Selamat pagi semua
kunantikan dirimu
di depan kelasmu 
menantikan kami

Ref :
Guruku Tersayang
Guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala ma'af
Kau berikan

Sebelum pulang, anak-anak kembali berbaris dan kami pun bernyanyi dan menari bersama-sama. Mereka bahkan meminta dua kali. Thank you so much guys for an amazing day. Yang ingin mempraktekkan lagu tersebut, dapat mendowload lagu Guruku Tersayang di YouTube.



Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang,

28 November 2018
1:58 AM